TUHAN JUGA BERPUASA.


 

TUHAN JUGA BERPUASA

 Karya : Emha Ainun Najib

Tulisan ini hanyalah sebagai review sebagai pembaca buku  dan sebagai seorang muslim dari karya yang luar biasa oleh penulis Emha Ainun Najib..

Kaitan kami dengan puasa sangatlah dekat, bukan hanya perihal menahan lapar dan dahaga tetapi perihal memberikan Batasan, mengontrol diri, bijak menyikapi, dan menghindari terhadap segala hal yang ada didepan mata kita, hal yang sudah ada dan mudah didapatkan.

Dalam buku ini ada sebuah quote yang bagus :
“puasa adalah pekerjaan menahan ditengah kebiasaan menumpahkan. Atau mengendalikan di Tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini : Ekonomi-indutri-konsumsi itu mengajak manusia melampiaskan. Sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan”

Pada saat awal membaca karya Emha Ainun Najib, di beberapa bukunya selalu memberikan perspektif dalam hal menyikapi teologis, moral, intelektual, dan kultural. Dibuku dengan judul “tuhan juga berpuasa ini” dibuka dengan penjelasan terkait kerancuan sikap yang dilatarbelakangi oleh semacam kebutaan (spiritual), oleh inkonsistensi ( mental), oleh kemunafikan (moral) dan oleh tiada atau tidak tegaknya pengetahuan (intelektual) dan yang terjadi pada manusia adalah kecenderungan menitikberatkan segala tujuan terhadap aktivitas dunia bukannya menduniakan akhirat.

Tradisi “mokel” ditengah masyarakat menandakan bahwa banyak dari kaum kami yang belum bisa memaknai berpuasa yang sebenarnya. Allah menyuruh kita berpuasa, disamping untuk “rahasia” Allah sendiri, fungsi horizontalnya, antara lain adalah agar orang yang berpuasa melatih tasammuh social, solidaritas pada sesama, dan menyiapkan mental untuk mau berbagi.

Dalam buku ini menjelaskan bahwa puasa adalah kebutuhan kita, dan untuk kita bukan semata mata dilakukan karna Allah meminta manfaat dari puasa yang kita lakukan. Bahwa puasa adalah suatu model terikat (cara hidup) yang sangat menentukan selamat atau tidaknya manusia didunia maupun diakhirat. Pandangilah sekelilingmu, lihat bagaimana orang orang di perkotaan, lihatlah bagaimana kemehawan diproduksi, bagaimana orang berkuasa dan segala cara mempertahankan kekuasaannya. Saksikanlah peperanga, pembongkaran, dan penindasan, mengobrolah dengan shabat dan tetangga sampai menemukan pertanyaan yang sama “kenapa manusia sangat tidak bisa menahan diri ?” padahal…

 

Bukankan Allah selalu sedemikian menahan diri ?

 

Dengan dosa dosa kita yang sedemikian bertumpuk, baik dosa pribadi maupun kolektif, baik dosa personal maupun structural, tidak pantaskan kalau sudah sejak dulu Allah murka dan melindas kita semua ?

Allah sangat menahan diri, dengan tetapnya menerbitkan matahari, tetap mengalirkan air, dan menghembuskan angin. Seakan Allah tidak peduli betapa malingnya dan munafiknya kami dihidup kami.

Buku yang ada di diary digital library dan ditulis oleh emha ainun najib ini, memperlihatkan bagaimana makna puasa dalam sosial dan keutamaan di hidup seseorang, dan bagaimana Allah memandang bahwa dengan berpuasa maka segalanya akan berjalan dengan baik.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Protection or Control?

Young, Productive, but Slowly Ruining Our Health?