Protection or Control?


 Protection or Control?


Aku pernah ngobrol sama laki-laki yang menurutku konservatif banget. Umurnya sekitar 34 tahun, kerja di perusahaan besar. Dari cara pandangnya keliatan dia tradisional.

Dia bilang, kalau nanti menikah, dia mau istrinya nggak usah kerja. Semua waktunya diberikan untuk keluarga. Dia yang akan bertanggung jawab penuh atas kebutuhan dan keinginan rumah tangga. From his point of view, itu bukan pengekangan. Itu bentuk tanggung jawab. Bentuk protection.

Dan jujur ya, aku nggak langsung menolak opini dia.

Karena sebagai perempuan yang sudah enam tahun kerja di dunia corporate dari government sampai swasta aku tahu dunia kerja itu nggak selalu safe. Di luar kelihatannya profesional, rapi, elegan. But inside, ada hal-hal yang nggak selalu nyaman untuk perempuan.

Harassment itu nyata.

Komentar yang diledekkan tapi sebenarnya melecehkan.
Sentuhan yang “nggak sengaja” tapi bikin kita freeze.
Tekanan dari atasan yang posisinya lebih tinggi dan bikin kita serba salah.
Situasi di mana perempuan harus tetap terlihat “ramah” walaupun sebenarnya merasa tidak aman.

And sometimes, we just stay quiet. Karena kita butuh pekerjaan itu.

Jadi kalau ada laki-laki yang bilang dia ingin melindungi istrinya dari hal-hal seperti itu, I understand the concern. Itu fair.

Tapi… bentar deh...

Masalahnya bukan di pilihan kerja atau tidak kerja, Masalahnya ada di choice.

Kalau kamu bilang, “Dunia kerja bahaya, jadi kamu nggak usah kerja,” tanpa diskusi, tanpa memberi ruang perempuan untuk mengalami (kerja) dan menilai sendiri, di situ letaknya masalahnya. Itu bukan lagi protection. Itu sudah masuk ke control.

Karena setiap perempuan punya cara pandang yang beda.
Ada yang merasa lebih aman di rumah.
Ada yang justru merasa hidup dan berkembang saat bekerja.
Ada yang ingin dua-duanya.

Kita nggak bisa bilang satu model itu paling benar. Menurutku... yang salah bukan nilai konservatifnya. Maybe they just want to avoid negative things happening around the women they love. Tapi kadang mereka lupa, bahwa negative things itu nggak cuma ada di luar rumah. Ketergantungan finansial, kehilangan ruang sosial, atau ketimpangan kuasa juga bisa jadi risiko.

Yang dibutuhkan sebenarnya sederhana= discussion, let her choose

Kalau seorang perempuan memilih untuk tidak bekerja, dan itu benar-benar keputusannya, itu valid. Kalau dia memilih tetap bekerja meskipun sadar akan risikonya, itu juga valid. Karena yang membuat sebuah pilihan bermartabat bukan hasilnya, tapi kebebasan untuk memilihnya.

In the end, ini bukan tentang konservatif atau modern.
Ini tentang apakah perempuan diberi ruang untuk menentukan jalannya sendiri.

Protection without consent can slowly turn into control.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Young, Productive, but Slowly Ruining Our Health?

TUHAN JUGA BERPUASA.